Artikel Mengenai Kesehatan

Artikel Mengenai Kesehatan

Cuci tangan merupakan salah satu perilaku sehat yang pasti sudah dikenal. Perilaku ini pada umumnya sudah diperkenalkan kepada anak-anak sejak kecil tidak hanya oleh orang tua di rumah, bahkan ini menjadi salah satu kegiatan rutin yang diajarkan para guru di Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Dasar. Tetapi kenyataannya perilaku sehat ini belum menjadi budaya masyarakat kita dan biasanya hanya dilakukan sekedarnya, sebagai contoh ketika kita masuk ke sebuah rumah makan Indonesia, biasanya fasilitas cuci tangan disediakan dalam bentuk kobokan berisi air bersih dengan sepotong kecil jeruk nipis yang maksudnya untuk menghilangkan bau amis di tangan. Pemandangan berbeda ketika kita masuk ke restaurant fast food terkemuka asal negara adi daya, fasilitas cuci tangan sudah sangat memenuhi syarat, yaitu air bersih mengalir dilengkapi dengan sabun cuci tangan cair berkualitas dan pengering tangan merk terkenal, sayangnya fasilitas itu belum digunakan dengan baik, karena biasanya orang hanya mencuci tangan sekedar menghilangkan bau amis bekas makanan dan lupa atau malas mencuci tangan dulu sebelum makan. Jika kita sedikit melirik ke masyarakat pedesaan, pada umumnya masyarakat desa hanya menggunakan air seadanya dan belum banyak yang menggunkan sabun untuk mencuci tangan sebelum atau sesudah dari jamban. Beberapa hal di atas menunjukan kenyataan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun sebagai salah satu upaya personal hygiene belum dipahami masyarakat secara luas dan prakteknya pun belum banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari..

Tangan merupakan pembawa utama kuman penyakit, oleh karena itu sangat penting untuk diketahui dan diingat bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan perilaku sehat yang sangat efektif untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit menular seperti diare, ISPA dan Flu Burung. Diare merupakan penyakit “langganan” yang banyak berjangkit pada masyarakat terutama usia balita. Survei Kesehatan Nasional tahun 2001 menempatkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) penyakit pada posisi tertinggi sebagai penyakit paling berbahaya pada balita. Diare dan ISPA dilaporkan telah membunuh 4 juta anak setiap tahun di negara-negara berkembang.  Sementara Flu Burung atau yang dikenal juga H5N1 merupakan penyakit mematikan dan telah memakan cukup banyak korban. Penyakit-penyakit tersebut juga merupakan masalah global dan banyak berjangkit di negara-negara berkembang, suatu wilayah yang didominasi dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, tidak cukup pasokan air bersih, kemiskinan dan pendidikan yang rendah tetapi rantai penularan penyakit-penyakit tersebut di atas dapat diputus “hanya” dengan perilaku cuci tangan pakai sabun yang merupakan perilaku yang sederhana, mudah dilakukan, tidak perlu menggunakan banyak waktu dan banyak biaya.

Perilaku Sehat Cuci Tangan Pakai Sabun yang merupakan salah satu  Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), saat ini juga telah menjadi perhatian dunia, hal ini karena masalah kurangnya praktek perilaku cuci tangan tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang saja, tetapi ternyata di negara-negara maju pun kebanyakan masyarakatnya masih lupa untuk melakukan perilaku cuci tangan. Rapat Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang pertama pada tanggal 15 Oktober 2008. Ini merupakan perwujudan seruan tentang perlunya upaya untuk meningkatkan praktek personal hygiene dan sanitasi di seluruh dunia. Fokus HCTPS tahun 2008 ini adalah Anak sekolah sebagai “Agen Perubahan” dengan simbolisme bersatunya seluruh komponen keluarga, rumah dan masyarakat dalam merayakan komitmen untuk perubahan yang lebih baik dalam berperilaku sehat melalui CTPS serta tantangan yang mengacu kepada pemecahan rekor “jumlah terbesar anak sekolah mencuci tangan pakai sabun pada hari yang sama pada 20 negara yang berbeda, sedangkan tujuan dari tantangan ini adalah untuk menciptakan keseragaman kegiatan kunci bagi seluruh negara yang berpartisipasi, menciptakan kreatifitas, memacu kompetisi positif antar negara peserta serta membuat HCTPS menjadi sebuah hari yang menyenangkan.

Penggunaan sabun pada saat mencuci tangan menjadi penting karena sabun sangat membantu menghilangkan kuman yang tidak tampak minyak/lemak/kotoran di permukaan kulit serta meninggalkan bau wangi. Sehingga kita dapat memperoleh kebersihan yang berpadu dengan bau wangi dan perasaan segar setelah mencuci tangan pakai sabun, ini tidak akan kita dapatkan jika kita hanya menggunakan air saja. Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah waktu-waktu kita harus melakukan perilaku cuci tangan, di Indonesia diperkenalkan 5 waktu penting yaitu :

1.setelah ke jamban.
2.setelah menceboki anak.
3.sebelum makan.
4.sebelum memberi makan anak .
5.sebelum menyiapkan makanan.

5 fakta yang harus diketahui tentang Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah :

-Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup.

-Mencuci tangan pakai sabun bisa mencegah penyakit yang menyebabkan kematian jutaan anak-anak setiap tahunnya.

-Waktu-waktu kritis CTPS adalah setelah ke jamban dan sebelum menyentuh makanan (mempersiapkan/memasak/menyajikan dan makan).

-Perilaku CTPS adalah intervensi kesehatan yang “cost-effective”.

-Untuk meningkatkan CTPS memerlukan pendekatan pemasaran sosial yang berfokus pada pelaku CTPS dan motivasi masing-masing yang menyadarkannya untuk mempraktekan perilaku CTPS.

-Praktek CTPS yang benar hanya membutuhkan sabun dan air mengalir. Air mengalir tidak harus dari  keran, bisa juga mengalir dari sebuah wadah berupa gayung, botol, kaleng, ember tinggi, gentong atau jerigen. Untuk penggunaan jenis sabun dapat menggunakan semua jenis sabun karena semua sebenarnya cukup efektif dalam membunuh kuman penyebab penyakit. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka CTPS perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut, yaitu :

-Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir.

-Tangan yang basah disabuni, digosok-gosok bagian telapak tangan dan punggung tangan,jari-jari, bawah kuku, minimal selama 20 detik.

-Bilas kembali dengan air mengalir bersih sampai bersih.

-Keringkan dengan kain bersih atau kibas-kibaskan di udara.

Menurut kajian yang disusun oleh Curtis and Cairncross (2003) didapatkan hasil bahwa perilaku CTPS khususnya setelah kontak dengan feses  ketika ke jamban dan membantu anak ke jamban, dapat menurunkan insiden diare hingga 42-47%. Perilaku CTPS juga dikatakan dapat menurunkan transmisi ISPA hingga lebih dari 30% ini diperoleh dari kajian yang dilakukan oleh Rabie and Curtis (2005). Di lain pihak, Unicef menyatakan bahwa CTPS dapat menurunkan 50% insidens flu burung. Praktek CTPS juga dapat mencegah infeksi kulit, mata dan memudahkan kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Beberapa kajian ini menunjukan bahwa intervensi CTPS dianggap sebagai pilihan perilaku yang efektif untuk pencegahan berbagai penyakit menular.

Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang ditetapkan pada tanggal 15 Oktober dan untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tahun ini merupakan salah satu upaya untuk melibatkan masyarakat di seluruh dunia termasuk masyarakat Indonesia agar dapat memahami arti penting perilaku CTPS dan secara aktif mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui ini masyarakat juga diberi kesempatan untuk merasakan sensasi rasa antara sebelum cuci tangan pakai sabun dan setelah pakai sabun, dan yang terpenting adalah masyarakat dapat memahami secara jernih bahwa dengan perilaku sederhana seperti CTPS, berbagai penyakit yang banyak merenggut nyawa anak dan balita dapat dicegah. Melalui HCTPS ini juga dapat mengajak masyarakat untuk memahami bahwa walaupun dengan kondisi kehidupan yang sulit sekalipun, perilaku CTPS tetap dapat dilaksanakan dengan mudah dan terjangkau dan ini menjadi perilaku pilihan masyarakat sendiri (action of choice) untuk peningkatan derajat kesehatan dan kualitas hidup mereka. Mari bersama kita raih hidup sehat dengan Cuci Tangan Pakai Sabun.

Advertisements

Kata Mutiara Tentang Cinta Berbahasa Inggris

Kata Kata Mutiara Cinta Bahasa Inggris :
Here’s my love, take it. Here’s my soul, use it. Here’s my heart, don’t break it. Here’s my hand, hold it and together we will make it forever. You are my passion, my life, my love. Without you I would have no reason to live. All the stars in the universe could not replace what we have together. I thank you for the love we have and your gentleness. Never forget me, as I will never forget you. If I had to choose between breathing and loving you I would use my last breath to tell you I love you. I love you, not because of what you have but because of what I feels.. I care for you, not because you need care but because I want to.. I’m always here for you, not because i wan’t you to be with me but because i want to be with you.. You are the sun in my day, the wind in my sky, the waves in my ocean and the beat in my heart… I Love You! Never ask why I love you, just accept that I do, and that I will for the rest of my life. I want to be in your arms, where you hold me tight and never let me go. You are the sun in my day, the wind in my sky, the waves in my ocean, and the beat in my heart. All my dreams came true the day that I met you. I Love You! You are the sunshine of my life! Thanks for brightening my world with the warmth of your Love… You are the fire that burns the passion within my soul. I love You with all my heart… I want to be your arms, I want to feel your touch, I want your lips on mine, I need you very much. Every moment spent with you is like a beautiful dream come true… I Love You! Can i keep you and never let you go? Can i hold your hand and hug you tight? Can i tell the world how lucky i am eo have you in my life? or simply, can you be mine for the rest of my life?

Pidato Tentang Likungan Hidup Berbahasa Inggris

Importance of protecting the environment”

Plants, people, animals and the environment are interdependence. Plants need a good environment for growing, animals need plants to eat, and human need everything to survive. Everything went as usual until the human who destroying it. No one of living things on the earth who can destroying it except the human.

Globalization may already be familiar to you . Globalization can accelerate the rate of economy anywhere. Technology developed over the years become a tool that can easily human works. Even to support it many new technologies are born for example a computer. Unfortunately, the speed of current technological improvement not followed by protecting awareness of surrounding environment. Massive oil drilling caused by the human vehicle is increasing along with increasing human populations from year to year. Finally, the waste produced from the vehicles, become one of the main factors polluted air around us. A lot of environmental damage that we often hear, for example, global warming ,acid rain, greenhouse effect, and environmental pollution.

The greenhouse effect caused by excessive carbon dioxide gas and causes global warming makes the earth hotter. The next phenomenon is acid rain, although it can prevent global warming but acid rain is more dangerous. humans are the main causes ! Start From now let’s keep our environment for our grandchildren one day later. because no matter how small work you do, will be felt by our children and grandchildren one day later.

Cara Membuat Nata De Coco

CARA MEMBUAT NATA DE COCO
Kata pengantar : Nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba Acetobacter xylinum, yang berbentuk padat, berwarna putih, transparan, berasa manis dan bertekstur kenyal.
I Siapkanlah bahan-bahan sebagai berikut
1.    100 liter air kelapa
2.    100 gram gula pasir
3.    500 gram ZA
4.    50 mililiter asam cuka/ asam asetat
5.    1 sendok makan asam sitrat
II Langkah Kerja dalam pembuatan nata de coco antara lain
Menyaring 100 liter air kelapa, kemudian ditambahkan dengan:
1.    100 gr gula pasir
2.    500 gram (gr) ZA
3.    Mendidihkan campuran bahan-bahan nomor 1 di atas, kemudian mematikan api kompor, dan menambah campuran tersebut dengan  50 mili liter (ml) asam cuka/ asam asetat.
4.    Pembuatan starter
1.    Mensterilisasi botol, dengan cara memasukkan air campuran air kelapa yang telah mendidih ke dalam botol hingga setinggi leher botol dan membiarkannya selama kurang lebih 5 menit, kemudian menuangkan isi air kelapa dan mendidihkannya kembali sedangkan botolnya ditutup dengan koran yang telah disterilkan.
2.    Memasukan air kelapa yang sudah didihkan pada nomor 2 sebanyak 600 ml, kemudian menutupnya dengan kertas koran dan membiarkannya hingga dingin (memeramnya selama ± 1 hari).
3.    Setelah dingin (± 1 hari), menambahkan starter yang berumur 6 hari ke dalam botol berisi campuran air kelapa yang telah didinginkan tadi (1 botol stater digunakan untuk 5–6 botol), dan memeramnya kembali selama kurang lebih 6 sampai 7 hari.
5.    Pembuatan Nata de Coco
1.    Menyiapkan nampan yang telah disterilisasikan (melalui pemanasan oleh sinar matahari/pencelupan nampan bersih ke dalam air panas).
2.    Memasang karet gelang pada bagian tengah nampan hasil sterilisasi.
3.    Memasukkan air kelapa hasil pendidihan (seperti poin 2) ke dalam loyang ± 1—1,5 liter di setiap loyang, kemudian menutupnya dengan koran dan mengikatnya dengan karet ban. Setelah itu dibiarkan hingga dingin (memeramnya selama ± 1 hari).
4.    Setelah dingin (± 1 hari) dilakukan inokulasi yaitu menambahkan starter  yang berumur 6 hari ke dalam loyang berisi campuran air kelapa yang telah didinginkan tadi (diperam), dan memeramnya kembali selama 7 hari.

NB: Agar bakteri Acetobacter xilynum dapat bekerja dengan baik, yaitu mengubah glukosa menjadi selulose atau dalam pembentukan lapisan nata maka kondisi lingkungan disekitarnya juga harus mendukung. Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan nata de coco yaitu kondisi peralatan serta ruangan yang cukup steril. Apabila kondisi ruangan kurang steril sehingga memungkinkan sirkulasi udara berjalan seperti biasa maka peluang untuk terjadinya kontaminasi pada nata yang diproduksi cukup besar, begitu pula jika peralatan yang digunakan kurang steril maka juga dapat menimbulkan kontaminasi (kerusakan pada lapisan nata yang diproduksi).
jika nata dirasa telah terbentuk, sekarang tinggal dipanen, berikut cara-cara pemanenannya:
1.    Pemanenan Nata
1.    Nata yang terbentuk diambil dan dibuang bagian yang rusak (jika ada), lalu dibersihkan dengan air (dibilas). Kemudian direndam dengan air bersih selama 1 hari.
2.    Pada hari kedua rendaman diganti dengan air bersih dan direndam lagi selama 1 hari.
3.    Pada hari ketiga nata dicuci bersih dan dipotong bentuk kubus (ukuran sesuai selera) kemudian direbus hingga mendidih dan air rebusan yang pertama dibuang.
4.    Nata yang telah dibuang airnya tadi, kemudian direbus lagi dan ditambahkan dengan satu sendok makan asam sitrat.
5.    Pengolahan
1.    Jika ingin dimasak sebagai campuran es buah, nata hasil point 5 d, ditambah dengan gula dan sirup sesuai selera.
2.    Jika ingin digunakan dilain hari dapat disimpan di dalam lemari es.
6.    Pengemasan Nata
1.    Nata hasil 5 d dimasukkan ke dalam plastik dalam kondisi masih panas (mendidih) dan diusahakan tidak terdapat gelembung udara dalam kemasan.
2.    Plastik (kemasan) ditutup rapat dengan karet atau sealer.
3.    Nata siap dipasarkan